Sepulang dari Jakarta, aku turun di pasar bawang Klampok (brebes) pas jam 02.00 dini hari. Saat itu gerimis, tukang ojegpun nggak ada. Aku takut mau  pulang ke Petunjungan (desaku), karena harus melewati pekuburan angker yang ada di seberang desa kalo mau sampe rumah. Lalu kuputuskan nunggu menjelang subuh aja (bathinku).

Lagi asyik nunggu seorang tukang becak nyamperin aku, berniat nawarin jasanya.

“Yu….Mas balik numpak becake aku” (kata tukang becak dengan logat brebes yang kental)

“Oralah soale aku wedi lewat kuburan” (jawabku)

“Aku wis biasa mas, ora usah wedi numpak becake aku” (kata si tukang becak dengan PDnya)

Nggak pake lama dan nggak pake nawar, Aku langsung naikbecaknya.

Sambil bercerita ngalor ngidul si Tukang becak mencoba menghiburku, untuk melepas rasa letihku. Begitu Pas diseberang jalan aku melihat gundukan pasir.

“Awas…wedi….Kang…wedi…Kang…wedi…kang…kang….”(teriakku).

“Tenang bae gen…kalm mas ora papa…”(jawab si tukang becak)

Nggak lama kemudian terdengar Gubrakkkkk……..(tau-tau aku sudah dibawah Si tukang becakpun terjatuh dari sadelnya.

“Bisane ora ngomong mas ana pasir….?” (kata si tukang becak)

“Aku wis teriak ana wedi ana wedi sampeyan labas bae…kepimen Kang..” (sergahku)

“Ohhhh takira wedi ana pocong ireng jaebule pasirr…!?” (kata tukang becak dengan nada heran)

Untunglah kejadian malam itu nggak sampe korban jiwa, hanya lecet-lecet sedikit dan akhirnya bisa nyampai rumah dengan selamat…