Kejadian ini aku alami saat keponakanku (anak dari kakakku)menikah pada tanggal 27 Juni 2008. Saat itu aku diundang untuk menghadiri acara akad nikah keponakanku di rumahnya di rumah dinas kecamatan Margadana Tegal. Sebagai Om yang baik aku menghadiri acara itu bersama dengan istri dan anakku. Acara berlangsung dengan tertib aman dan tanpa kendala apapun. Pas di hari yang sama Pamanku yang ada di Margasari mengadakan acara yang sama yaitu pernikahan anaknya yang terakhir. Karena acaranya berbarengan dengan yang ada di acara keponakan aku memberatkan ke yang di margadana (keponakan). Sehingga aku hanya bisa menitipkan

amplop lewat saudaraku yang lain. Karena acara di margadana ramai dan sikecil rewel melulu. Aku berpamitan sekitar jam 04 sore.Tapi terlebih dahulu memberi sumbangan (amplop) ke kakakku. Setelah itu aku pulang ke Brebes, sampai rumah jam
17.00.WIB. Udah itu aku mandi. Lagi mandi asik-asik, entah mengapa istriku memanggil-manggil. Selesai aku mandi aku samperin ada apa ?. Mas Amplopnya ketuker…(kata istriku). Ketuker dengan apa…?(jawabku). Ketuker dengan yang kosong..(kata istriku). Lah bisanya (jawabku)…!Rupanya saat mengambil amplop ditas salah ngambil, karena ditas istriku ada lima amplop. termasuk untuk pamanku , kakakku dan 3 amplop kosong.Sedangkan untuk jumlah kakku adalah yang besar ketimbang jumlah untuk pamanku.Maklum keponakan lebih dekat ketimbang sepupu. Malu…… rasanya kalo sempat dibuka langsung oleh kakkakku. Untung saja tidak ketukaer dengan amplop yang aku titipkan ke pamamnku di margasari. Buru-buru selepas maghrib aku langsung tancap gas ke rumah kakakku( margadana tegal). Sampai dirumah aku langsung tanya kakakku. Mbak amplope wis dibuka (tanyaku), amplop apa..?(jwb kakakku) dengan nada terheran-heran. Amplop sumbangan (jawabku). Belum….ada apa sih (sahut kakak). Dalam bathinku syukur…syukur belum ketahuan. Langsung saja kusodorkan amplop yang asli. Ini mbak yang asli..(jawabku). Yang asli apa…(jawab kakak dengan nada heran). Tadi punyaku yang kosong, ini yang ada uangnya kebawa ke rumah, sekarang aku tuker biar nggak kapiran. Malu rasanya diriku kalau  sampai tahu ada amplop kosong, untunglah kakakku mau memaafkanku.