Namaku Tarjo, kerjaanku malak duit orang, parkir, memeras dan tak segan-segan bunuh orang.

Itulah pekerjaanku yang menjadi awal kisahku. Tapi biar Aku preman, Aku cinta banget sama istriku. Segala kemauannya pasti aku turuti, karena Dia cinta pertamaku. Termasuk beli “terasi” sekalipun aku turuti.

Istriku nggak tau kalo aku jadi preman. Seperti biasa tiap pagi aku ngutip jatah premanku ke setiap pedagang pasar deket rumah tinggalku. Hari itu memang benar-benar na’as, karena waktu itu ada razia gabungan dari kepolisian. Sehingga waktu itu aku tidak bisa ngutip jatah premanku. Padahal saat itu aku disuruh untuk membeli “terasi” sama istriku. Na’asnya lagi pada saat aku lagi ngumpet di salah satu gang, tiba-tiba dari arah belakangku ada yang mencengkram krah baju di leherku.

“Aduh Pak jangan ditangkep Pak, anak saya masih bayi” (Pintaku kepada yang mencengkram).

“Tangkep-tangkep mana terasinya , disuruh beli terasi malah maen petak umpet”

Mendengar suara itu agak agak leaga karena ternyata  suara itu hanya istriku. Lalu Aku bergegas untuk beli terasi, dan syukurlah karena hari itu istriku nggak tau kalo ada razia polisi. Lebih bersyukur lagi karena istriku tidak tahu kalo Aku sebenarnya seorang preman pasar yang pecundang.