setanSebenernya kejadian ini udah lama Tuyi alami, yaitu ketika  Masih kuliah di Jakarta (lebih tepatnya di UNJ Rawamangun kampus A).

Waktu itu kami (rombongan bertiga dari Brebes) kost didaerah Pasar sore Rawamangun Muka, disebelah Pasar Sunan Giri. Pas sebelah Komplek Pemakaman Umum (TPU) Utan Kayu namanya, kami bertiga tinggal.

Tinggal di kontrakan kamar petak di lantai 2 (loteng). Kalo melihat sebelah terhampar luas komplek pemakaman yang kata orang sebelah rumah termasuk makam yang lumayan angker.

Walalaupun kami bertiga sekamar tapi tak jarang kalo pulang ke kontrakan tak pernah bareng. Dikarenakan kami bertiga selepas kuliah ada kegiatan tambahan yang bermacam-macam.  Ada yang freeland di tempat usaha milik orang lain, ada yang ngeles prifat dan ada yang freeland di restauran ternama. Lunayanlah buat nyari tambahan tuk beli buku dan foto kopi.

Singkat cerita kami hampir tiap malem diganggu oleh suara orang berjalan di sebelah kamar kami ( lebih tepatnya tempat untuk jemuran baju).

brugg..brugg…brugg..., brug…brugg…brugg” bunyinya kira-kira seperti itu mirip orang gerak jalan.

Kami selaku penghuni baru awalnya takut karena baru pertama ngalami.

Setiap malam kami mau tidur selalu ada bunyi itu, tapi anehnya kalo suara itu kita dengarkan seksama suara-suara itu pasti hilang tuk sementara.

Terus kalo kita tidak menghiraukanya suara itu pasti terdengar lagi, makin lama makin kenceng. Kalo kita ikut mendengar saura itu ilang lagi begitu seterusnya.

Hampir tiap malem ada yang begitu, lama-lama kami mencoba bertanya pada orang tua yang ada di sekitar situ ( Macam Dukun ).

” Mbah…Mbah…kami tiap malem selalu diganggu orang berjalan di tempat  jemuran mbah…..” Tanyaku pada sang Dukun.

” Wah..wah…adik-adik  harus harus hati-hati, itu suara setan Dik.., lagi cari temen.., tapi ngga’ papa asal Adik mau menuruti nasehat mbah ” Katanya.

” Kami harus melakukan apa to mbah…? ” tanya kami bertiga.

” Nanti malem adik semua berpura-pura jadi setan..” kata mbah Dukun.

” Maksudnya Mbah…” kami terheran-heran

” Nanti Muka Adik-adik dicoreng-coreng dengan Langes Panci (pantat panci  yang warnanya hitam), Udah gitu Bilang aja Sama-sama temen jangan saling ganggu (tapi ingat sambil bawa pentungan) ” jawab mbah dukun.

Antara percaya dan tidak kami bertiga meninggalkan dukun tadi dan saip atur rencana.

Malam yang ditunggu-tunggu datang. Sepi, dingin dan disertai gonggongan anjing kampung kami bertiga mengharapkan suara derap langkah misteri.

Kami bertiga udah siap didepan pintu keluar dengan muka yang sudah tercoreng-moreng (seperti Arnold Swarzenneger di film Commando) dan membawa pentungan siap beraksi.

Bruggg..bruggg…bruggg….bruggg…” Wah suara itu datang lagi rupanya (kami bertiga terdiam)

Begitu suara itu terdengar sampai tiga kali…..

Kami langsung…”grebbb…” keluar sambil teriak-teriak…

Woooiiiiiiiii kami juga temenmu….kalo mo ajak gerak jalan….kami juga siap kan lebih rame…. Dasar setanTeriak kami bertiga.

Diteriaki seperti itu rupanya setan juga mikir-mikir…

Dalam hati setan mungkin berpikir ” Lho kok lebih serem sih…?, kita aja ga’ pake pentungan Kok…?”

Selepas malam itu, ngga’ ada lagi suara-suara langkah misteri (setan gerak jalan), akhirnya aku terbebas dari setan-setan yang berperasaan.

Tetapi kini Saya selepas balik kampung, ada yang sering ketuk-ketuk rumahku di malam hari….

Apa trik lama saat kuliah masih bisa dipakai ya….? Entahlah… :mrgreen: