Wedi Apa Pasir

Sepulang dari Jakarta, aku turun di pasar bawang Klampok (brebes) pas jam 02.00 dini hari. Saat itu gerimis, tukang ojegpun nggak ada. Aku takut mau  pulang ke Petunjungan (desaku), karena harus melewati pekuburan angker yang ada di seberang desa kalo mau sampe rumah. Lalu kuputuskan nunggu menjelang subuh aja (bathinku).

Lagi asyik nunggu seorang tukang becak nyamperin aku, berniat nawarin jasanya.

“Yu….Mas balik numpak becake aku” (kata tukang becak dengan logat brebes yang kental)

“Oralah soale aku wedi lewat kuburan” (jawabku)

“Aku wis biasa mas, ora usah wedi numpak becake aku” (kata si tukang becak dengan PDnya)
Baca lebih lanjut